Kamis, 06 Agustus 2009

Aggiornamento


Andaikan Raden Ajeng Kartini masih hidup, pastilah merasa sedih namun sekaligus diliputi kebanggaan menyaksikan perempuan-perempuan saat ini. Kemajuan yang ditempuh para perempuan tentu sangat jauh dari yang dahulu Ia bayangkan dalam gagasannya. Kesetaraan yang Ia suarakan sungguh menjadi kenyataan. Tetapi perjalanan dalam menempuh tujuan jaman keemasan mengandung konsekuensi yang besar, yang kemudian melahirkan perempuan-perempuan dengan beragam permasalahan dan mengemban cacat bawaan dari sebuah kemajuan peradaban.

Waktu menggilas perempuan dalam dua belahan. Menang atau tertindas. Perbedaan keadaan yang tetap menyuguhkan kesamaan kemungkinan.Tercerabutnya perempuan dari nilai luhur kemanusiaan adalah sebuah keniscayaan jaman. Kekalahan itu mengharuskan kita menatap kekelaman sebuah lembah dalam dan masihkah kita dapat menyuarakan dengan lantang:”Perempuan sudah mencapai kesetaraan seutuhnya ?

Keterpihakan kita kepada perempuan yang tertindas sungguh nyata dibutuhkan. Ingatlah akan kisah-kisah tragis yang dialami perempuan. Tegakah kita hanya menyaksikan dan membincangkannya di meja makan?

Bergeraklah…bertindak nyatalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar